Industri kabel merupakan salah satu sektor manufaktur yang sering luput dari perhatian investor pasar modal. Namanya tidak sepopuler sektor perbankan, batu bara, nikel, atau teknologi. Padahal, kabel merupakan komponen penting dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi modern, mulai dari pembangunan jaringan listrik, properti, kawasan industri, telekomunikasi, data center, hingga proyek infrastruktur.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat sejumlah perusahaan yang bergerak dalam bisnis kabel dan produk turunannya. Beberapa di antaranya sudah lama tercatat di bursa dan memiliki sejarah operasi puluhan tahun. Emiten yang dapat dimasukkan ke kelompok industri kabel antara lain PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO), PT KMI Wire & Cable Tbk (KBLI), PT Voksel Electric Tbk (VOKS), PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI), PT Jembo Cable Company Tbk (JECC), PT Kabelindo Murni Tbk (KBLM), serta PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI). Daftar ini juga sejalan dengan pengelompokan emiten sektor perindustrian BEI/OJK yang mencantumkan IKBI, JECC, KBLI, KBLM, dan emiten terkait lainnya.
Menariknya, meskipun sama-sama memproduksi kabel, karakter masing-masing perusahaan tidak sepenuhnya sama. Ada yang kuat di kabel listrik, ada yang memiliki eksposur telekomunikasi, ada yang berhubungan dengan kabel bawah laut, dan ada pula yang memiliki bisnis lebih beragam.
Mengapa industri kabel menarik untuk diperhatikan?
Kabel pada dasarnya merupakan produk yang sangat berkaitan dengan pembangunan fisik. Ketika terjadi pembangunan pembangkit listrik, jaringan transmisi, kawasan industri, gedung, perumahan, pusat data, atau jaringan telekomunikasi, kebutuhan kabel ikut meningkat.
Karena itu, prospek perusahaan kabel tidak hanya bergantung pada penjualan produk rumah tangga seperti kabel instalasi listrik. Permintaan dari proyek utilitas, PLN, kontraktor EPC, operator telekomunikasi, perusahaan tambang, kawasan industri, hingga proyek infrastruktur dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan.
Namun, bisnis kabel juga memiliki karakteristik yang perlu dipahami. Salah satunya adalah penggunaan tembaga dan aluminium sebagai bahan baku utama. Harga komoditas tersebut dapat mengalami fluktuasi sehingga perubahan harga bahan baku dapat memengaruhi margin perusahaan.
Di sinilah menariknya industri kabel. Pertumbuhan pendapatan tidak otomatis berarti pertumbuhan laba yang sama besar. Perusahaan bisa mencatat kenaikan penjualan tetapi marginnya justru tertekan apabila biaya bahan baku meningkat atau persaingan harga semakin ketat.
Tujuh emiten kabel yang perlu dikenal
Secara sederhana, investor dapat memetakan industri kabel BEI menjadi tujuh nama utama: SCCO, KBLI, VOKS, IKBI, JECC, KBLM, dan CCSI.
Berdasarkan data kinerja 2025, skala bisnis ketujuh emiten tersebut sangat beragam. SCCO dan KBLI berada di antara perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar dalam kelompok ini, sementara CCSI dan KBLM berada pada skala yang lebih kecil. Data pasar yang tersedia juga menunjukkan perbedaan besar dalam profitabilitas masing-masing emiten.
1. SCCO — Supreme Cable Manufacturing & Commerce
PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk atau SCCO merupakan salah satu nama lama dalam industri kabel Indonesia. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen berbagai jenis kabel untuk kebutuhan kelistrikan dan industri.
Dari sisi ukuran pasar, SCCO merupakan salah satu perusahaan kabel yang cukup besar. Data 2025 menunjukkan laba bersih SCCO sekitar Rp313,1 miliar, meningkat dari sekitar Rp294,4 miliar pada 2024. Net margin juga berada di kisaran 4,22 persen pada 2025.
Hal yang menarik dari SCCO adalah konsistensi laba dalam beberapa tahun terakhir. Setelah mencatat laba Rp106,5 miliar pada 2022, laba meningkat menjadi Rp237,2 miliar pada 2023, Rp294,4 miliar pada 2024, dan sekitar Rp313,1 miliar pada 2025.
Artinya, meskipun industri kabel bersifat siklikal dan sensitif terhadap harga bahan baku, SCCO menunjukkan kemampuan menghasilkan laba yang relatif konsisten dalam periode tersebut.
Bagi investor, SCCO menarik untuk diamati terutama dari sisi hubungan antara pertumbuhan penjualan, margin kotor, laba bersih, arus kas, dan kebijakan dividen. Harga saham yang terlihat murah secara PER belum tentu otomatis murah jika laba sedang berada pada titik siklus yang tinggi.
2. KBLI — KMI Wire & Cable
PT KMI Wire & Cable Tbk atau KBLI merupakan salah satu emiten kabel yang cukup dikenal investor Indonesia.
Pada 2025, KBLI mencatat pendapatan sekitar Rp3,74 triliun, naik sekitar 10,1 persen dibandingkan 2024. Namun laba bersih justru turun dari Rp229,6 miliar menjadi sekitar Rp203,7 miliar.
Ini merupakan contoh yang sangat bagus untuk memahami karakter industri kabel. Penjualan bisa tumbuh, tetapi laba tidak selalu mengikuti dengan persentase yang sama.
Pada 2025, KBLI menghasilkan gross profit sekitar Rp427,1 miliar dan EBITDA Rp233,3 miliar. Net margin berada di sekitar 5,5 persen. Posisi neraca menunjukkan total aset sekitar Rp3,37 triliun dan total ekuitas sekitar Rp2,92 triliun.
Dengan demikian, KBLI perlu dilihat bukan hanya dari pertumbuhan pendapatan, tetapi juga kemampuan mempertahankan margin.
Salah satu karakter yang menarik dari KBLI adalah skala bisnisnya. Dengan pendapatan beberapa triliun rupiah per tahun, perubahan kecil pada margin dapat memberikan dampak besar terhadap laba bersih.
3. VOKS — Voksel Electric
PT Voksel Electric Tbk atau VOKS merupakan perusahaan kabel yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Produk kabel menjadi bagian penting dari bisnis perusahaan, termasuk kabel untuk kebutuhan kelistrikan dan telekomunikasi.
Namun VOKS memperlihatkan profil keuangan yang berbeda dibandingkan SCCO dan KBLI.
Pada 2025, VOKS mencatat pendapatan sekitar Rp1,99 triliun, meningkat 5,8 persen dibandingkan 2024. Akan tetapi perusahaan masih membukukan rugi bersih sekitar Rp68,6 miliar, meskipun kerugian tersebut membaik dibandingkan rugi Rp89,2 miliar pada 2024.
Gross profit turun dari Rp234,4 miliar pada 2024 menjadi Rp168 miliar pada 2025. EBITDA juga turun menjadi sekitar Rp49,6 miliar.
Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan VOKS bukan semata-mata mencari pertumbuhan pendapatan. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana mengembalikan bisnis ke tingkat profitabilitas yang lebih sehat.
Pada 2025, total aset VOKS sekitar Rp1,84 triliun dengan total ekuitas Rp578,3 miliar. Sementara itu, total utang berbunga tercermin cukup besar dibandingkan EBITDA, sehingga struktur pendanaan menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan investor.
Karena itu, membaca VOKS membutuhkan pendekatan berbeda. Investor perlu memperhatikan proses pemulihan margin, beban keuangan, arus kas, serta kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasional secara konsisten.
4. IKBI — Sumi Indo Kabel
PT Sumi Indo Kabel Tbk atau IKBI mempunyai karakter yang cukup menarik karena memiliki eksposur pasar ekspor.
Pada 2025, penjualan bersih IKBI turun sekitar 11,14 persen menjadi US$178,72 juta dari US$201,13 juta pada 2024. Penjualan ekspor turun 11,79 persen menjadi US$130,69 juta, sedangkan penjualan domestik turun sekitar 9,3 persen menjadi US$48,02 juta.
Namun terjadi hal yang berlawanan pada laba. Laba bersih justru melonjak sekitar 92 persen menjadi US$6,58 juta pada 2025 dari US$3,42 juta pada 2024.
Penyebab utamanya antara lain penurunan beban pokok penjualan. Beban pokok turun sekitar 13,84 persen menjadi US$164,03 juta. Beban penjualan serta beban umum dan administrasi juga turun.
Kasus IKBI memperlihatkan satu hal penting: dalam bisnis manufaktur, peningkatan laba tidak selalu membutuhkan peningkatan penjualan. Efisiensi biaya dan perbaikan margin dapat menghasilkan pertumbuhan laba meskipun pendapatan mengalami penurunan.
Eksposur ekspor juga membuat investor perlu memperhatikan nilai tukar, kondisi ekonomi negara tujuan ekspor, serta harga komoditas bahan baku.
5. JECC — Jembo Cable Company
PT Jembo Cable Company Tbk atau JECC merupakan salah satu emiten kabel yang mencatat perkembangan cukup kuat pada 2025.
Pendapatan JECC pada 2025 mencapai sekitar Rp4,05 triliun, naik 15,6 persen dibandingkan Rp3,51 triliun pada 2024. Laba bersih meningkat dari Rp76,6 miliar menjadi sekitar Rp115,4 miliar, atau naik sekitar 50,7 persen.
Gross profit mencapai Rp328,2 miliar dan EBITDA sekitar Rp218,4 miliar. Net margin berada di kisaran 2,85 persen berdasarkan data laba bersih dan pendapatan.
Jika melihat struktur bisnisnya, kabel listrik menjadi bagian yang dominan. Data laporan keuangan 2024 menunjukkan penjualan kabel listrik menyumbang sekitar 92,2 persen dari penjualan bersih, sementara kabel telepon sekitar 5,2 persen dan produk lainnya sekitar 2,6 persen.
Artinya, JECC sangat berkaitan dengan perkembangan permintaan kabel listrik.
Namun, ada satu aspek yang perlu diperhatikan: kebutuhan modal kerja JECC cukup besar. Pada akhir 2025, utang jangka pendek tercatat sekitar Rp1,57 triliun, sementara ekuitas sekitar Rp917,1 miliar.
Dengan demikian, pertumbuhan laba perlu dilihat bersama dengan struktur utang dan arus kas operasional.
6. KBLM — Kabelindo Murni
PT Kabelindo Murni Tbk atau KBLM merupakan emiten kabel lain yang sudah lama berada di pasar modal Indonesia.
KBLM mengalami perubahan kinerja cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Laba bersih meningkat dari Rp30,8 miliar pada 2023 menjadi Rp77,4 miliar pada 2024, tetapi kemudian turun cukup tajam menjadi sekitar Rp24,9 miliar pada 2025.
Pendapatan juga turun dari sekitar Rp1,99 triliun pada 2024 menjadi Rp1,79 triliun pada 2025.
Lebih penting lagi, gross profit turun dari Rp138,1 miliar menjadi Rp77,3 miliar. EBITDA turun dari Rp123,2 miliar menjadi Rp54,5 miliar.
Angka tersebut menunjukkan bagaimana sensitifnya profitabilitas perusahaan kabel terhadap perubahan margin.
Menariknya, nilai buku KBLM cukup besar dibandingkan kapitalisasi pasarnya. Data 2025 menunjukkan BVPS sekitar Rp1.270, sementara harga pasar pada periode laporan berada jauh di bawah nilai tersebut.
Tetapi investor harus berhati-hati menggunakan PBV sebagai satu-satunya dasar analisis. Aset yang besar tidak otomatis menghasilkan return yang besar. Yang lebih penting adalah seberapa produktif aset tersebut menghasilkan laba dan arus kas.
7. CCSI — Communication Cable Systems Indonesia
CCSI memiliki karakter yang berbeda dibandingkan produsen kabel listrik konvensional karena perusahaan mempunyai fokus kuat pada kabel telekomunikasi dan kabel bawah laut.
Segmen ini menarik karena perkembangan konektivitas digital membutuhkan infrastruktur kabel yang semakin kompleks. Kabel bawah laut memiliki peran penting dalam menghubungkan jaringan komunikasi antarpulau maupun antarnegara.
CCSI juga memiliki produk submarine cable dan aksesoris terkait. Dalam materi perusahaan, sejumlah produk kabel bawah laut memiliki sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), termasuk beberapa jenis kabel dan aksesori.
Namun kinerja keuangan CCSI pada 2025 masih menjadi perhatian. Pendapatan hanya sekitar Rp293,2 miliar, relatif tidak banyak berubah dari Rp291,4 miliar pada 2024. Laba bersih justru turun dari Rp3,9 miliar menjadi sekitar Rp1,5 miliar.
Gross margin CCSI pada 2025 mencapai sekitar 17,5 persen, jauh lebih tinggi daripada beberapa produsen kabel listrik, tetapi margin tersebut belum diterjemahkan menjadi laba bersih yang besar. Beban operasional dan faktor lain masih membuat laba akhir sangat tipis.
Karena itu, CCSI lebih menarik untuk diamati dari sisi potensi proyek kabel komunikasi dan kabel bawah laut, bukan hanya dari laba tahunan saat ini.
Perbandingan kinerja emiten kabel
Jika melihat data 2025, gambaran sederhananya sebagai berikut:
| Emiten | Pendapatan 2025 | Laba Bersih 2025 | Perubahan Laba |
|---|---|---|---|
| SCCO | — | Rp313,1 M | Naik |
| KBLI | Rp3,74 T | Rp203,7 M | Turun 11,3% |
| VOKS | Rp1,99 T | -Rp68,6 M | Rugi mengecil |
| IKBI | US$178,72 juta | US$6,58 juta | Naik sekitar 92% |
| JECC | Rp4,05 T | Rp115,4 M | Naik sekitar 50,7% |
| KBLM | Rp1,79 T | Rp24,9 M | Turun 67,8% |
| CCSI | Rp293,2 M | Rp1,5 M | Turun 61,5% |
Data historis laba SCCO, KBLI, VOKS, IKBI, JECC, KBLM, dan CCSI menunjukkan bahwa profitabilitas antaremiten memang sangat berbeda.
Apa yang menjadi penggerak industri kabel?
Ada beberapa faktor yang layak diperhatikan ketika menganalisis industri kabel.
Pertama adalah pembangunan jaringan listrik. Pertumbuhan konsumsi listrik, pembangunan pembangkit, gardu induk, jaringan transmisi dan distribusi secara langsung menciptakan kebutuhan kabel.
Kedua adalah pembangunan properti dan kawasan industri. Setiap kawasan industri baru membutuhkan jaringan listrik, utilitas dan berbagai instalasi yang membutuhkan kabel.
Ketiga adalah telekomunikasi dan data center. Digitalisasi ekonomi menciptakan kebutuhan konektivitas yang semakin besar. Kabel fiber optic dan kabel bawah laut memiliki peranan penting dalam ekosistem tersebut.
Keempat adalah infrastruktur pemerintah dan BUMN. Proyek PLN, telekomunikasi, transportasi, kawasan ekonomi, dan pembangunan infrastruktur lainnya dapat menjadi sumber permintaan.
Kelima adalah ekspor. Emiten yang memiliki pasar luar negeri dapat memperoleh tambahan pasar, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi risiko nilai tukar, persaingan global dan kondisi ekonomi negara tujuan.
Tantangan terbesar: harga tembaga dan aluminium
Salah satu hal paling penting dalam industri kabel adalah bahan baku.
Tembaga dan aluminium mempunyai pengaruh besar terhadap struktur biaya produksi. Ketika harga bahan baku naik, perusahaan kabel dapat menghadapi tekanan margin apabila kenaikan harga jual tidak dapat mengikuti kenaikan biaya.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat pertumbuhan revenue. Gross margin justru menjadi salah satu indikator penting.
Misalnya, perusahaan dapat mengalami kenaikan penjualan 10 persen tetapi gross profit hanya tumbuh 2 persen. Kondisi tersebut berarti sebagian manfaat pertumbuhan penjualan hilang karena kenaikan biaya produksi atau tekanan harga jual.
Sebaliknya, penjualan yang stagnan pun belum tentu buruk apabila perusahaan berhasil melakukan efisiensi dan memperbaiki margin. Contoh IKBI pada 2025 menunjukkan bagaimana penurunan penjualan dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan laba akibat penurunan beban pokok dan biaya lainnya.
Apakah industri kabel bersifat defensif?
Kabel memang merupakan produk yang dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi, tetapi bukan berarti semua emiten kabel otomatis bersifat defensif.
Permintaan kabel untuk kebutuhan listrik dan infrastruktur memiliki karakter yang relatif fundamental. Namun kinerja perusahaan tetap dapat mengalami fluktuasi karena proyek, harga bahan baku, persaingan, modal kerja, dan kondisi keuangan perusahaan.
Bahkan dua perusahaan yang sama-sama menjual kabel dapat mempunyai kinerja yang sangat berbeda. JECC, misalnya, mencatat kenaikan laba yang cukup besar pada 2025, sedangkan KBLM justru mengalami penurunan laba yang tajam. VOKS masih membukukan rugi bersih, sementara SCCO mencatat laba yang relatif konsisten.
Karena itu, analisis sektor harus dilanjutkan dengan analisis perusahaan.
Apa yang perlu diperiksa sebelum membeli saham emiten kabel?
Investor yang tertarik pada sektor ini setidaknya perlu memperhatikan enam hal.
Pertama, pertumbuhan pendapatan. Apakah pertumbuhan berasal dari volume penjualan, kenaikan harga, proyek baru, atau sekadar perubahan harga bahan baku?
Kedua, gross margin. Ini penting untuk melihat apakah perusahaan mampu meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada pelanggan.
Ketiga, laba operasional dan EBITDA. Jangan hanya melihat laba bersih karena laba bersih dapat dipengaruhi faktor non-operasional dan perubahan kurs.
Keempat, utang dan modal kerja. Industri kabel dapat membutuhkan modal kerja besar karena perusahaan harus membeli bahan baku terlebih dahulu sebelum menerima pembayaran dari pelanggan.
Kelima, arus kas operasi. Perusahaan yang mencatat laba tetapi terus-menerus membutuhkan tambahan utang untuk membiayai operasional perlu dianalisis lebih lanjut.
Keenam, valuasi. PER, PBV, EV/EBITDA, dividend yield dan free cash flow dapat digunakan secara bersama-sama. Tidak ada satu rasio yang cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi perusahaan.
Prospek emiten kabel ke depan
Prospek industri kabel Indonesia pada dasarnya sangat terkait dengan kebutuhan elektrifikasi dan pembangunan infrastruktur. Pertumbuhan kawasan industri, pembangunan perumahan, kebutuhan jaringan listrik, telekomunikasi, data center dan konektivitas antardaerah merupakan faktor yang dapat menciptakan permintaan jangka panjang.
Namun, investor perlu membedakan antara prospek industri dan prospek saham tertentu.
Industri yang tumbuh tidak otomatis membuat seluruh perusahaan di dalamnya memiliki pertumbuhan laba yang sama. Perusahaan dengan neraca lebih sehat, kapasitas produksi yang tepat, pelanggan yang kuat, kemampuan mengelola bahan baku, serta efisiensi operasional dapat mempunyai hasil yang berbeda dibandingkan pesaingnya.
Dengan kata lain, tema besar seperti pembangunan jaringan listrik atau data center baru merupakan titik awal analisis, bukan kesimpulan investasi.
Post a Comment